<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>temat wisata | Titikfokus</title>
	<atom:link href="/category/temat-wisata/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>/</link>
	<description>Sewa Lensa jogja &#124; Sewa Kamera Jogja</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Mar 2015 04:27:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.3.8</generator>
	<item>
		<title>Keindahan candi yang terkubur di bawah tanah</title>
		<link>/keindahan-candi-yang-terkubur-di-bawah-tanah/</link>
				<comments>/keindahan-candi-yang-terkubur-di-bawah-tanah/#comments</comments>
				<pubDate>Tue, 24 Mar 2015 07:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[titikfokus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[temat wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">/?p=3463</guid>
				<description><![CDATA[<p>Karyowinangun pada tahun 1966 disawahnya menemukan sebuah batu besar degan pahatan di permukaannya. Dinas kepurbakalaan yang mengetahui adanya temuan itu pun segera datang dan menetapkan areal sawah kryowinangun sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan itu diduga merupakan bagian dari candi yang mungkin terkubur di bawah areal sawah. Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan bongkahan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/keindahan-candi-yang-terkubur-di-bawah-tanah/">Keindahan candi yang terkubur di bawah tanah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<p><img style="line-height: 1.5em; -webkit-user-select: none;" alt="" src="http://www.hotelasih.com/wp-content/uploads/2014/02/856286031.jpg" /></p>
<p>Karyowinangun pada tahun 1966 disawahnya menemukan sebuah batu besar degan pahatan di permukaannya. Dinas kepurbakalaan yang mengetahui adanya temuan itu pun segera datang dan menetapkan areal sawah kryowinangun sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan itu diduga merupakan bagian dari candi yang mungkin terkubur di bawah areal sawah. Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan bongkahan batu lain beserta arca-arca kuno. Dan benar, batu-batu itu memang merupakan komponen sebuah candi.</p>
<p>Candi ini dinamakan candi sambisari karena letak di dusun sambisarim kelurahan purwomartani, kecamatan kalasan, Sleman, kurang lebih 10 Km dari pusat kota Yogyakarta ke timur kota Yogyakarta ke arah kota Solo atau kira-kira 4 km sebelum kompleks candi Prambanan. Posisi Candi Sambisari terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah, kemungkinan besar karena tertimbun lahar dari Gunung Merapi yang meletus secara besar-besaran pada awal abad ke-11 (kemungkinan tahun 1006). Hal ini terlihat dari banyaknya batu material volkanik di sekitar candi. kemungkinan pada masa pemerintahan Rakai Garung.</p>
<p>Dengan dikelilingi oleh tembok candi yang asli dengan ukuran 50 m x 48 m, kompleks ini mempunyai candi utama didampingi oleh tiga candi perwara (pendamping). Di dalam candi ini terdapat patung Durga (di sebelah utara), patung Ganesha (sebelah timur), patung Siwa Agastya (sebelah selatan), dan di sebelah barat terdapat dua patung dewa penjaga pintu: Mahakala dan Nadisywara.</p>
<p>Di dalam candi utama terdapat patung Lingga dan Yoni dengan ukuran cukup besar. Pada saat penggalian, benda-benda bersejarah, di antaranya beberapa tembikar, perhiasan, cermin logam serta prasasti lempengan emas juga ditemukan.</p>
<p>Bila telah puas menikmati keindahan candi, anda bisa menuju ke ruang informasi. Beberapa foto yang menggambarkan lingkungan sawah Karyowinangun sebelum digali dan kondisi awal candi ketika ditemukan bisa ditemui. Ada pula foto-foto tentang proses penggalian dan rekonstruksi candi yang berjalan puluhan tahun, termasuk foto benda-benda lain yang ditemukan selama penggalian, berupa arca dari perunggu yang kini disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.</p>
<p>Keindahan Candi Sambisari yang kini bisa kita nikmati merupakan hasil kerja keras para arkeolog selama ini. sedikit demi sedikit disusun kembali demi lestarinya satu lagi warisan kebudayaan agung di masa silam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/keindahan-candi-yang-terkubur-di-bawah-tanah/">Keindahan candi yang terkubur di bawah tanah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>/keindahan-candi-yang-terkubur-di-bawah-tanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>Kotagede bagian dari Kasunanan</title>
		<link>/kotagede-bagian-dari-kasunanan/</link>
				<comments>/kotagede-bagian-dari-kasunanan/#respond</comments>
				<pubDate>Wed, 17 Dec 2014 11:48:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[titikfokus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[temat wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">/?p=1929</guid>
				<description><![CDATA[<p>  &#160; Kotagede bagian dari Kasunanan sebelum 1952 Sebelum 1952 wilayah ini merupakan bagian dari Kasunanan Surakarta (merupakan sebuah enklave) Semula, Kotagede adalah nama sebuah kota yang merupakan Ibukota Kesultanan Mataram. Selanjutnya kerajaan itu terpecah menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Wilayah yang terbelah Wilayah Kecamatan Kotagede sebagian dulu merupakan bagian dari bekas Kota Kotagede [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/kotagede-bagian-dari-kasunanan/">Kotagede bagian dari Kasunanan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<p><b> </b></p>
<p><img class="aligncenter" alt="http://2.bp.blogspot.com/-4M9pV_s9osI/TneR5qy4nXI/AAAAAAAAAFQ/3KwLqhLDFM8/s1600/Kotagede-Kota-Perak_articleimage.jpg" src="http://2.bp.blogspot.com/-4M9pV_s9osI/TneR5qy4nXI/AAAAAAAAAFQ/3KwLqhLDFM8/s1600/Kotagede-Kota-Perak_articleimage.jpg" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kotagede bagian dari Kasunanan sebelum 1952</p>
<p>Sebelum 1952 wilayah ini merupakan bagian dari Kasunanan Surakarta (merupakan sebuah enklave)</p>
<p>Semula, Kotagede adalah nama sebuah kota yang merupakan Ibukota Kesultanan Mataram. Selanjutnya kerajaan itu terpecah menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.</p>
<p><b>Wilayah yang terbelah</b></p>
<p>Wilayah Kecamatan Kotagede sebagian dulu merupakan bagian dari bekas Kota Kotagede ditambah dengan daerah sekitarnya. Sedangkan bagian lain dari bekas Kota Kotagede berada di wilayah Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.</p>
<p>Kondisi seperti itu kadang-kadang menyulitkan untuk membangun Kotagede dalam konteks sebagai bekas Kota yang masyarakatnya mempunyai kesatuan sosiologis dan antropologis. Sampai sekarang masyarakat bekas Kota Kotagede dalam kegiatan sosial sehari-hari masih sangat solid dalam kesatuan itu.</p>
<p>Kesulitan pembangunan oleh pemerintah muncul ketika penanganan dilakukan oleh stake-holder pemerintah di tingkat Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Pemerintah Kota Yogyakarta hanya mampu menyentuh wilayah bekas Kota Kotagede yang masuk wilayah Kota Yogyakarta. Demikian juga Pemerintah Kabupaten Bantul hanya bisa meneyentuh wilayah yang masuk Kabupaten Bantul.</p>
<p>Soliditas masyarakat tersebut mewujudkan sebuah kesatuan wilayah yang tak terpisahkan sebagaimana dulu batas wilayah Kota Kotagede ini masih eksis. Wilayah bekas Kota Kotagede harus ditangani oleh dua unit Pemerintah yang berbeda. Dalam konteks otonomi daerah sekarang ini, ketika kewenangan tingkat Kabupaten dan Kota relatif besar, makin terasakan betapa mereka harus menghadapi 2 (dua) kebijakan yang berbeda untuk satu kesatuan wilayah tersebut. Salah satu contoh permasalahan yang segera dapat dilihat atau dirasakan masyarakat adalah bila menyangkut penanganan kawasan heritage. Pemerintah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul mempunyai perbedaan prioritas. Maka masyarakat Kotagede harus atau lebih sering berinteraksi dengan Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.</p>
<p>Sebagai kota tua bekas Ibukota kerajaan, Kota Kotagede merupakan kota warisan (heritage) yang amat berpotensi bagi kemakmuran masyarakatnya. Namun hambatan pembagian wilayah pemerintahan akan terus menjadi permasalahan yang tak pernah dibahas dalam tingkat kemauan politik, kecuali masyarakatnya menghendaki.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Kompleks Makam Pasarean Mataram dan Masjid Besar Mataram</h3>
<p><img class="aligncenter" style="cursor: -moz-zoom-in;" alt="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/76/Kota_Gede_Jogjakarta.jpg" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/76/Kota_Gede_Jogjakarta.jpg" width="901" height="659" /></p>
<p>Salah satu pintu gerbang di kompleks makam raja-raja di Kotagede.</p>
<p>Suasana tradisional masih sangat terasa di kota ini, misalnya terlihat di kompleks Masjid Besar Mataram yang terasa masih seperti di lingkungan kraton, lengkap dengan pagar batu berelief mengelilingi mesjid, pelataran yang luas dengan beberapa pohon sawo kecik, serta sebuah bedug berukuran besar.</p>
<p>Selain itu di Kotagede juga terdapat makam raja-raja Mataram bernama komplek Pasarean Mataram dimana terdapat antara lain makam Panembahan Senopati. Namun kemudian komplek makam raja-raja Mataram selanjutnya dipindahkan ke daerah Imogiri oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo saat masa pemerintahannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Pasar Legi</h3>
<p><img style="cursor: -moz-zoom-in;" alt="http://farm6.staticflickr.com/5491/10061241824_2173c09b72_b.jpg" src="http://farm6.staticflickr.com/5491/10061241824_2173c09b72_b.jpg" width="985" height="659" /></p>
<p>Keluar dari Komplek Makam Raja-Raja pengunjung akan disambut oleh kemeriahan Pasar Kotagede yang selalu ramai setiap hari. Namun terdapat suasana lain apabila datang ke Pasar Kotagede di kala penanggalan Jawa menunjukkan hari pasaran Legi. Pasar Kotagede akan bertambah ramai dan sesak baik oleh penjual maupun pembeli, bahkan area pasar bisa bertambah hingga depan Kantor Pos/TK ABA. Oleh karena itu, oleh sebagian besar penduduk Kotagede, pasar ini lebih dikenal dengan nama Pasar Legi. Kipo dan yangko adalah makanan khas Kotagede yang bisa diperoleh di Pasar Legi dan sekitarnya.</p>
<p>Sebelum anda mengunjungi Kota gede dan pasar legi, anda wajib membawa kamera ke tempat itu. Nah jika kamu masih belum mempunyai kamera atau kamera kamu ketinggal di rumah kamu bisa sewa kamera dan lensa di <a href="../">Titikfokus kamera</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/kotagede-bagian-dari-kasunanan/">Kotagede bagian dari Kasunanan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>/kotagede-bagian-dari-kasunanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>Candi Kalasan atau candi tiara</title>
		<link>/candi-kalasan-atau-candi-tiara/</link>
				<comments>/candi-kalasan-atau-candi-tiara/#respond</comments>
				<pubDate>Wed, 17 Dec 2014 11:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[titikfokus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[temat wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">/?p=1926</guid>
				<description><![CDATA[<p>Candi Kalasan Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas   Candi Kalasan yang berada tidak jauh dari Candi Prambanan Candi Kalasan atau Candi Kalibening[1] merupakan sebuah candi yang dikategorikan sebagai candi umat Buddha terdapat di desa Kalasan, kabupaten Sleman, provinsi Yogyakarta, Indonesia. Candi ini memiliki 52 stupa dan berada di sisi jalan raya antara Yogyakarta dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/candi-kalasan-atau-candi-tiara/">Candi Kalasan atau candi tiara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<h1>Candi Kalasan</h1>
<p style="text-align: left;">Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas</p>
<p> <img class="aligncenter" alt="http://jogjasukses.com/wp-content/uploads/2014/10/Candi-Kalasan-jogjasukses.com-.jpg" src="http://jogjasukses.com/wp-content/uploads/2014/10/Candi-Kalasan-jogjasukses.com-.jpg" /></p>
<p>Candi Kalasan yang berada tidak jauh dari Candi Prambanan</p>
<p><b>Candi Kalasan</b> atau <b>Candi Kalibening</b><sup>[1]</sup> merupakan sebuah candi yang dikategorikan sebagai candi umat Buddha terdapat di desa Kalasan, kabupaten Sleman, provinsi Yogyakarta, Indonesia.</p>
<p>Candi ini memiliki 52 stupa dan berada di sisi jalan raya antara Yogyakarta dan Solo serta sekitar 2 km dari candi Prambanan.</p>
<p>Pada awalnya hanya candi Kalasan ini yang ditemukan pada kawasan situs ini, namun setelah digali lebih dalam maka ditemukan lebih banyak lagi bangunan bangunan pendukung di sekitar candi ini. Selain candi Kalasan dan bangunan &#8211; bangunan pendukung lainnya ada juga tiga buah candi kecil di luar bangunan candi utama, berbentuk stupa.</p>
<p>Berdasarkan prasasti Kalasan bertarikh 778 yang ditemukan tidak jauh dari candi ini menyebutkan tentang pendirian bangunan suci untuk menghormati Bodhisattva wanita, Tarabhawana dan sebuah vihara untuk para pendeta.<sup>[2][1]</sup> Penguasa yang memerintah pembangunan candi ini bernama <i>Maharaja Tejapurnapana Panangkaran</i> (Rakai Panangkaran) dari keluarga Syailendra. Kemudian dengan perbandingan dari manuskrip pada prasasti Kelurak tokoh ini dapat diidentifikasikan dengan Dharanindra<sup>[3]</sup> atau dengan prasasti Nalanda adalah ayah dari Samaragrawira<sup>[4]</sup>. Sehingga candi ini dapat menjadi bukti kehadiran Wangsa Syailendra, penguasa Sriwijaya di Sumatera atas Jawa.<sup>[5]</sup></p>
<p>Dalam Prasasti Kalasan berhuruf Pre Nagari, berbahasa Sanksekerta ini menyebutkan para guru sang raja Tejapurnapana Panangkaran dari keluarga Syailaendra berhasil membujuk raja untuk membuat bangunan suci bagi Dewi Tara beserta biaranya bagi para pendera sebagai hadiah dari <i>Sangha</i>.</p>
<p>Profesor Dr Casparis. menafsir berdasarkan prasasti Kalasan itu, Candi Kalasan dibangun bersama antara Budha dan Hindu. Sementara itu Van Rumond, sejarahwan dari Belanda meyakini bahwa di situs yang sama pernah ada bangunan suci lain yang umurnya jauh lebih tua dibanding Candi Kalasan, sesuai hasil penelitian yang dilakukannya pada tahun 1928. Bangunan suci itu berbentu wihara yang luasnya 45 x 45 meter. Ini berarti bangunan candi mengalami tiga kali perbaikan. Sebagai bukti, menurutnya, terdapat empat sudut kaki candi dengan bagian yang menonjol.</p>
<p>Pada bagian selatan candi terdapat dua relief Bodhisattva, sementara pada atapnya terdiri dari 3 tingkat. Atap paling atas terdapat 8 ruang, atap tingkat dua berbentuk segi 8, sedangkan atap paling bawah sebangun dengan candi berbentuk persegi 20 yang dilengkapi kamar-kamar setiap sisinya.</p>
<h2>Beberapa Keistimewaan dan Bentuk dari Candi Kalasan</h2>
<p>Pada candi Kalasan ini memiliki lapisan penutup candi yang dinamakan Bajralepa, yaitu semacam plesteran di ukiran batu halus. Detil dari hiasan Bajralepa ini yang merupakan salah satu ciri Candi Kalasan, yang juga dijumpai pada Candi Sari.</p>
<p>Denah bangunan Candi Kalasan berbentuk persegi. Atapnya segi delapan dan puncaknya berbentuk dagoba (stupa). Keadaannya sudah sangat rusak. Hanya bagian selatan yang masih utuh. Disebut-sebut, bilik pusatnya dahulu memiliki arca perunggu setinggi 6 meter yang kini hilang. Sedangkan ketiga biliknya juga kosong.<img style="cursor: -moz-zoom-in;" alt="http://liocandra.files.wordpress.com/2010/07/dsc01784.jpg" src="http://liocandra.files.wordpress.com/2010/07/dsc01784.jpg" width="878" height="659" /></p>
<p>Tubuh dan atap candi dihias dengan ukiran-ukiran yang sangat indah. Terdiri dari relung-relung, sulur-sulur, arca-arca Budha, dagoba-dagoba dan arca Gana, yaitu manusia kerdil berperut buncit yang biasanya memikul barang.</p>
<p>Mengenai hiasan ini, Bernet Kempers dalam bukunya, Indonesia Selama zaman Hindu, halaman 25, menyebutkan bahwa cara pembuatan hiasan yang cukup rapi dan memikat ini menunjukkan bahwa pada masa pembuatan candi ini memiliki pemahat dan ahli plester bangunan yang sangat cakap.</p>
<p>Ditambahkan menurut Bernet, Candi Kalasan dulunya ditutup oleh <i>stucco</i> seluruhnya, seperti juga candi-candi yang lain. Sedangkan penghalusan bagian-bagian candi ditambahkan batu penutup yang terbuat dari batu kapur.</p>
<p>Di dalam bangunan candi yang nampak sekarang, ternyata ada kontruksi yang lebih tua. Karena itu beberapa ahli mengatakan bahwa banguna yang ada sekarang itu merupakan banguan tambahan di sekitar abad ke-9. Bangunan aslinya jelas memiliki usia yang lebih tua daripada itu.</p>
<p><img class="aligncenter" alt="http://1.bp.blogspot.com/-91wwqPGkG00/T3-F8f9QB3I/AAAAAAAABg8/RPmA_Y5pRVg/s1600/Picture+446.jpg" src="http://1.bp.blogspot.com/-91wwqPGkG00/T3-F8f9QB3I/AAAAAAAABg8/RPmA_Y5pRVg/s1600/Picture+446.jpg" /></p>
<p>Denah kaki Candi Kalasan terletak di atas lapik berbentuk bujur sangkar. Dasar candi juga berbentuk bujur sangkar. Pada kaki candi terdapat makara. Di sekeliling kaki ada hiasan jambangan. Tubuh candi bujur sangkar dengan penampil-penampil yang menjorok ke luar di tengah sisinya. Dilengkapi sebuah singasana yang dihiasi singha berdiri diatas punggung sekeor gajah.</p>
<p>Bagian luar candi, terdapat relung yang dihiasi gambar dewa memegang bunga teratai. Pada setiap pintu masuk terdapat hiasan kepala kala yang dijenggernya terdapat kuncup bunga. Pohon dewata ada diatasnya dan para penghuni kahyangan memainkan bunyi-bunyian seperti rebab, gendang, kerang dan cemara.</p>
<p>Atap candinya terdapat hiasan Gana. Atap nya berbentuk segi delapan dan bertingkat dua. Di tingkat pertama terdapat arca Budha. Pada keliling candi terdapat bangunan stupa setinggi 4,6 meter sebanyak 52 buah.</p>
<p><img class="aligncenter" alt="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/74/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Candi_Mendut_TMnr_10015974.jpg" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/74/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Candi_Mendut_TMnr_10015974.jpg" /></p>
<p>Keindahan candi Kalasan ini masih bisa dinikmati terutama pada bagian selatan candi. Terdapat Banaspati yang besar, lajur yang tegak lurus dihiasi dengan sulur-sulur dan makara-makara, yang merupakan termasuk hasil kesenian Jawa pada masa Hindu yang terbaik. Keistimewaan lain adalah Makaranya menghadap kedalam dan keluar dan diatas kepala Kala terdapat lukisan berbentuk atap candi yang menjulang tinggi.</p>
<p>Bila candi ini dilihat dari dalam, candi ini disusun dari tumpukan batu-batuan yag saling terkait dan melebar kebawah.</p>
<p>Sekalipun candi ini telah dipugar pada tahun 1927 dan pada tahun 1929, namun masyarakat tetap akan menemui kesulitan untuk melihat keindahan Candi Kalasan ini. Itu karena ada bagian-bagian yang terpaksa tidak dapat dikembalikan seperti sediakala, disebabkan karena banyak batu -batu aslinya yang hilang.</p>
<p><img class="aligncenter" alt="http://jogjabiz.com/wp-content/uploads/2012/05/1-f4079808.jpg" src="http://jogjabiz.com/wp-content/uploads/2012/05/1-f4079808.jpg" /></p>
<p>Sebelum anda mengunjungi Candi kalasan, anda wajib membawa kamera ke tempat itu. Nah jika kamu masih belum mempunyai kamera atau kamera kamu ketinggal di rumah kamu bisa sewa kamera dan lensa di <a href="../">Titikfokus kamera</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/candi-kalasan-atau-candi-tiara/">Candi Kalasan atau candi tiara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>/candi-kalasan-atau-candi-tiara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>Candi Ijo, Tertinggi DI Yogyakarta</title>
		<link>/candi-ijo-tertinggi-di-yogyakarta/</link>
				<comments>/candi-ijo-tertinggi-di-yogyakarta/#respond</comments>
				<pubDate>Wed, 17 Dec 2014 10:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[titikfokus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[temat wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">/?p=1921</guid>
				<description><![CDATA[<p>Candi Ijo adalah sebuah kompleks percandian bercorak Hindu, berada 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta. Candi ini diperkirakan dibangun antara kurun abad ke-10 sampai dengan ke-11 Masehi pada saat zaman Kerajaan Medang periode Mataram Lokasi Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/candi-ijo-tertinggi-di-yogyakarta/">Candi Ijo, Tertinggi DI Yogyakarta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<p><b>Candi Ijo</b> adalah sebuah kompleks percandian bercorak Hindu, berada 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta. Candi ini diperkirakan dibangun antara kurun abad ke-10 sampai dengan ke-11 Masehi pada saat zaman Kerajaan Medang periode Mataram</p>
<p><img alt="http://yogyatrip.com/wp-content/uploads/2013/06/candi-barong-info-jogja.jpg" src="http://yogyatrip.com/wp-content/uploads/2013/06/candi-barong-info-jogja.jpg" /></p>
<h2>Lokasi</h2>
<p>Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini berada lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian perbukitan Batur Agung, kira-kira sekitar 4 kilometer arah tenggara Candi Ratu Boko. Posisinya berada pada lereng bukit dengan ketinggian rata-rata 375 meter di atas permukaan laut<sup>[2]</sup>. Candi ini dinamakan &#8220;Ijo&#8221; karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo. Kompleks percandian membuka ke arah barat dengan panorama indah, berupa persawahan dan bentang alam, seperti Bandara Adisucipto dan pantai Parangtritis.</p>
<p>Dataran tempat kompleks utama candi memiliki luas sekitar 0,8 hektare, namun kuat dugaan bahwa kompleks percandian Ijo jauh lebih luas, dan menjorok ke barat dan utara. Dugaan itu didasarkan pada kenyataan bahwa ketika lereng bukit Candi Ijo di sebelah timur dan sebelah utara ditambang oleh penduduk, banyak ditemukan artefak yang mempunyai kaitan dengan candi.</p>
<p><img style="cursor: -moz-zoom-in;" alt="http://2.bp.blogspot.com/-d4qM7thwXfA/UUykAHzlMxI/AAAAAAAAAC8/Kj627Y1ackI/s1600/candi+barong+4.JPG" src="http://2.bp.blogspot.com/-d4qM7thwXfA/UUykAHzlMxI/AAAAAAAAAC8/Kj627Y1ackI/s1600/candi+barong+4.JPG" width="991" height="659" /></p>
<h2>Tata bangunan</h2>
<p>Dinding pada candi utama terdapat tiga relung di tiap sisinya</p>
<p>Kompleks percandian Ijo dibangun pada punggungan bukit yang disebut Gumuk/Bukit Ijo. Nama ini telah disebut dalam prasasti Poh berangka tahun 906 Masehi berbahasa Jawa Kuna, dalam penggalan &#8221; &#8230; <i>anak wanua i wuang hijo</i> &#8230;&#8221; (anak desa, orang Ijo)<sup>[2]</sup>.</p>
<h3>Kompleks candi</h3>
<p>Secara keseluruhan, kompleks candi merupakan teras-teras berundak, dengan bagian terbawah di sisi barat dan bagian tertinggi berada pada sisi timur, mengikuti kontur bukit. Kompleks percandian utama berada pada ujung timur. Di bagian barat terdapat reruntuhan bangunan candi yang masih dalam proses ekskavasi dan belum dipugar<sup>[1]</sup>. Setelah disela oleh kebun kecil, terdapat teras yang lebih tinggi dengan cukup banyak reruntuhan yang diperkirakan berasal dari sekumpulan candi-candi pemujaan kecil (candi perwara). Salah satu candi ini telah dipugar pada tahun 2013.</p>
<p><img class="aligncenter" alt="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/08/Candi-Tertinggi-Di-Yogyakarta-300812-SK-1.jpg" src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/08/Candi-Tertinggi-Di-Yogyakarta-300812-SK-1.jpg" /></p>
<h3>Kompleks percandian utama</h3>
<p>Kompleks percandian utama terletak di bagian timur menempati teras tertinggi. Di bagian ini ada candi induk (satu telah dipugar), candi pengapit, dan candi perwara. Candi induk yang sudah selesai dipugar menghadap ke barat. Di hadapannya berjajar tiga candi yang lebih yang lebih kecil ukurannya yang diduga dibangun untuk memuja Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Ketiga candi perwara ini menghadap ke arah candi utama, yaitu menghadap ke timur. Ketiga candi kecil ini memiliki ruangan di dalamnya dan terdapat jendela kerawangan berbentuk belah ketupat di dindingnya. Atap candi perwara ini terdiri atas tiga tingkatan yang dimahkotai barisan ratna. Candi perwara yang berada di tengah melindungi arca lembu Andini, kendaraan Dewa Syiwa.</p>
<p><img alt="http://www.wisatajogja.biz/wp-content/uploads/2014/06/url.jpeg" src="http://www.wisatajogja.biz/wp-content/uploads/2014/06/url.jpeg" /></p>
<h4>Candi induk</h4>
<p>Bangunan candi induk berdiri di atas kaki candi yang berdenah dasar persegi empat. Pintu masuk ke ruang dalam tubuh candi terletak di pertengahan dinding sisi barat, diapit dua buah jendela palsu, yakni relung gawang jendela tapi tidak tembus berlubang pada ruangan di dalam. Pada dinding sisi utara, timur, dan selatan masing-masing terdapat tiga relung yang dihiasi ukiran kala makara. Relung yang tengah lebih tinggi dari dua relung yang mengapitnya. Relung-relung ini kini kosong, diduga mungkin dulu pada relung-relung ini pernah terpasang arca.</p>
<p>Untuk mencapai pintu yang terletak sekitar 120 cm dari permukaan tanah dibuat tangga yang dilengkapi dengan pipi tangga berbentuk sepasang makara, makhluk mitos berbentuk bertubuh ikan dan berbelalai seperti gajah. Kepala makara menjulur ke bawah dengan mulut menganga. Di atas ambang pintu terdapat hiasan kepala Kala bersusun. Pada bagian pintu masuk terdapat ukiran kala makara, berupa mulut raksasa kala yang tersambung makara. Pola kala-makara ini lazim ditemukan dalam ragam hias candi-candi Jawa Tengah. Sebagaimana yang terdapat di candi-candi lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kedua kepala Kala tersebut tidak dilengkapi dengan rahang bawah. Di atas ambang kedua jendela palsu juga dihiasi dengan pahatan kepala Kala bersusun.</p>
<p>Di dalam mulut masing-masing makara terdapat relief burung bayan kecil. Jendela-jendela palsu ada bagian luar dinding utara, timur dan selatan, yaitu tiga buah pada masing-masing sisi. Ambang jendela juga dibingkai dengan hiasan sepasang makara dan kepala kala seperti yang terdapat di jendela palsu yang mengapit pintu.</p>
<p>Dalam tubuh candi induk ini terdapat sebuah ruangan. Di tengah dinding bagian dalam sisi utara, timur dan selatan masing-masing terdapat sebuah relung. Setiap relung diapit oleh pahatan pada dinding yang menggambarkan sepasang apsara yang terkesan terbang menuju ke arah relung. Tepat di tengah ruangan terdapat lingga dan yoni yang disangga oleh figur ular sendok. Makhluk yang berasal dari mitos Hindu ini melambangkan penyangga bumi. Penyatuan lingga dan yoni melambangkan kesatuan antara Syiwa dan Parwati shaktinya.</p>
<p>Atap candi bertingkat-tingkat tiga undakan, terbentuk dari susunan segi empat yang makin ke atas makin mengecil. Di setiap sisi terdapat deretan tiga ratna di masing-masing tingkat. Sebuah ratna berukuran lebih besar terdapat di puncak atap. Sepanjang batas antara atap dan dinding tubuh candi dihiasi dengan deretan pahatan dengan pola berselang-seling antara sulur-suluran dan gana (makhluk kerdil). Sepanjang tepi atap dihiasi dengan deretan antefiks dengan bingkai sulur-suluran. Dalam masing-masing bingkai terdapat arca setengah badan yang menggambarkan dewa dalam berbagai posisi tangan.</p>
<p><img class="aligncenter" style="cursor: -moz-zoom-in;" alt="http://batasnusa.com/wp-content/uploads/2014/11/Candi-Ijo-Yogyakarta.jpg" src="http://batasnusa.com/wp-content/uploads/2014/11/Candi-Ijo-Yogyakarta.jpg" width="1171" height="659" /></p>
<p>Sebelum anda mengunjungi Candi Ijo , anda wajib membawa kamera ke tempat itu. Nah jika kamu masih belum mempunyai kamera atau kamera kamu ketinggal di rumah kamu bisa sewa kamera dan lensa di <a href="../">Titikfokus kamera</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/candi-ijo-tertinggi-di-yogyakarta/">Candi Ijo, Tertinggi DI Yogyakarta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>/candi-ijo-tertinggi-di-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>Candi Plaosan</title>
		<link>/candi-plaosan/</link>
				<comments>/candi-plaosan/#respond</comments>
				<pubDate>Wed, 17 Dec 2014 08:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[titikfokus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[temat wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">/?p=1918</guid>
				<description><![CDATA[<p>Candi Plaosan adalah sebutan untuk kompleks percandian yang terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kira-kira satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan. Adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil) yang berbentuk stupa menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/candi-plaosan/">Candi Plaosan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<div class="attachment"><a title="Candi-Plaosan-Foto1.png" href="http://wisataraya.com/?attachment_id=1686" rel="attachment"><img class="attachment-960x960 aligncenter" alt="Candi-Plaosan-Foto1.png" src="http://wisataraya.com/gbr/Candi-Plaosan-Foto1.png" width="960" height="640" /></a></div>
<p><b>Candi Plaosan</b> adalah sebutan untuk kompleks percandian yang terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kira-kira satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan. Adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil) yang berbentuk stupa menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi Buddha. Kompleks ini dibangun pada abad ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan pada zaman Kerajaan Medang, atau juga dikenal dengan nama Kerajaan Mataram Kuno.</p>
<p>Kompleks Candi Plaosan terdiri atas Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul.</p>
<p><b>Candi Plaosan Lor</b></p>
<p><img style="cursor: -moz-zoom-in;" alt="http://rifatransport.com/wp-content/uploads/2014/08/candi-plaosan.jpg" src="http://rifatransport.com/wp-content/uploads/2014/08/candi-plaosan.jpg" width="978" height="659" /></p>
<p>Kompleks Candi Plaosan Lor memiliki dua candi utama. Candi yang terletak di sebelah kiri (di sebelah utara) dinamakan Candi Induk Utara dengan relief yang menggambarkan tokoh-tokoh wanita, dan candi yang terletak di sebelah kanan (selatan) dinamakan Candi Induk Selatan dengan relief menggambarkan tokoh-tokoh laki-laki. Di bagian utara kompleks terdapat masih selasar terbuka dengan beberapa arca buddhis. Kedua candi induk ini dikelilingi oleh 116 stupa perwara serta 50 buah candi perwara, juga parit buatan.</p>
<p>Pada masing-masing candi induk terdapat 6 patung/arca Dhyani Boddhisatwa. Walaupun candi ini adalah candi Buddha, tetapi gaya arsitekturnya merupakan perpaduan antara agama Buddha dan Hindu.</p>
<p>Candi Induk Selatan Plaosan Lor dipugar pada tahun 1962 oleh Dinas Purbakala. Sementara itu, Candi Induk Selatan dipugar pada tahun 1990-an oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah.</p>
<p><b>Candi Plaosan Kidul</b></p>
<p><img class="aligncenter" alt="http://commondatastorage.googleapis.com/static.panoramio.com/photos/original/40979346.jpg" src="http://commondatastorage.googleapis.com/static.panoramio.com/photos/original/40979346.jpg" /></p>
<p>Berbeda dari Candi Plaosan Lor, Candi Plaosan Kidul belum diketahui memiliki candi induk. Pada kompleks ini terdapat beberapa perwara berbentuk candi dan stupa. Sebagian di antara candi perwara telah dipugar.</p>
<p><img style="cursor: -moz-zoom-in;" alt="/wp-content/uploads/2014/11/IMG_6589e.jpg" src="../wp-content/uploads/2014/11/IMG_6589e.jpg" width="1023" height="659" /></p>
<p>Sebelum anda mengunjungi candi plaosan , anda wajib membawa kamera ke tempat itu. Nah jika kamu masih belum mempunyai kamera atau kamera kamu ketinggal di rumah kamu bisa sewa kamera dan lensa di <a href="../">Titikfokus kamera</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/candi-plaosan/">Candi Plaosan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>/candi-plaosan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>Taman Sari Keraton Yogyakarta</title>
		<link>/taman-sari-keraton-yogyakarta/</link>
				<comments>/taman-sari-keraton-yogyakarta/#respond</comments>
				<pubDate>Wed, 17 Dec 2014 05:24:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[titikfokus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[temat wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">/?p=1915</guid>
				<description><![CDATA[<p>gambar oleh C. Buddhing Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Keraton Yogyakarta adalah situs bekas taman atau kebun istanaKeraton Yogyakarta, yang dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan &#8220;The Fragrant Garden&#8221; ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/taman-sari-keraton-yogyakarta/">Taman Sari Keraton Yogyakarta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img alt="Berkas:Het waterkasteel te Djokjakarta.jpg" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/34/Het_waterkasteel_te_Djokjakarta.jpg/800px-Het_waterkasteel_te_Djokjakarta.jpg" srcset="//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/34/Het_waterkasteel_te_Djokjakarta.jpg/1199px-Het_waterkasteel_te_Djokjakarta.jpg 1.5x, //upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/34/Het_waterkasteel_te_Djokjakarta.jpg/1599px-Het_waterkasteel_te_Djokjakarta.jpg 2x" width="800" height="512" data-file-width="4080" data-file-height="2613" /></p>
<address style="text-align: center;">gambar oleh C. Buddhing</address>
<p><b>Taman Sari Yogyakarta</b> atau <b>Taman Sari Keraton Yogyakarta</b> adalah situs bekas taman atau kebun istanaKeraton Yogyakarta, yang dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan &#8220;<i>The Fragrant Garden</i>&#8221; ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.</p>
<p>Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh SusuhunanPaku Buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri. Sebagai pimpinan proyek pembangunan Taman Sari ditunjuklah <b>Tumenggung Mangundipuro</b>. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bupati Madiun, <b>Tumenggung Prawirosentiko</b>, besrta seluruh rakyatnya. Oleh karena itu daerah Madiun dibebaskan dari pungutan pajak. Di tengah pembangunan pimpinan proyek diambil alih oleh <b>Pangeran Notokusumo</b>, setelah Mangundipuro mengundurkan diri. Walaupun secara resmi sebagai kebun kerajaan, namun bebrapa bangunan yang ada mengindikasikan Taman Sari berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir jika istana diserang oleh musuh. Konon salah seorang arsitek kebun kerajaan ini adalah seorang Portugis yang lebih dikenal dengan <b>Demang Tegis</b>.</p>
<p>Kompleks Taman Sari setidaknya dapat dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama adalah danau buatan yang terletak di sebelah barat. Bagian selanjutnya adalah bangunan yang berada di sebelah selatan danau buatan antara lain Pemandian Umbul Binangun. Bagian ketiga adalah Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua. Bagian terakhir adalah bagian sebelah timur bagian pertama dan kedua dan meluas ke arah timur sampai tenggara kompleks Magangan.</p>
<p><img class="aligncenter" style="-webkit-user-select: none;" alt="" src="http://i.ytimg.com/vi/JQ8CjH9sFLk/maxresdefault.jpg" /></p>
<p>Sebelum anda mengunjungi taman sari, anda wajib membawa kamera ke tempat itu. Nah jika kamu masih belum mempunyai kamera atau kamera kamu ketinggal di rumah kamu bisa sewa kamera dan lensa di <a href="/">Titikfokus kamera</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/taman-sari-keraton-yogyakarta/">Taman Sari Keraton Yogyakarta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>/taman-sari-keraton-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>museum sejarah dan kebudayaan Jawa</title>
		<link>/museum-sejarah-dan-kebudayaan-jawa/</link>
				<comments>/museum-sejarah-dan-kebudayaan-jawa/#respond</comments>
				<pubDate>Tue, 16 Dec 2014 03:42:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[titikfokus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[temat wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">/?p=1910</guid>
				<description><![CDATA[<p>Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta. Selainkeramik pada zaman Neolitik dan patung perunggu dari abad ke-8, museum ini juga menyimpan beberapa macam bentuk wayang kulit, berbagai senjata kuno (termasuk keris), dan topeng Jawa. Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit. Museum Sonobudoyo Unit I [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/museum-sejarah-dan-kebudayaan-jawa/">museum sejarah dan kebudayaan Jawa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<p><img style="-webkit-user-select: none;" alt="" src="http://www.sonobudoyo.com/public/img/slides/01.jpg" /></p>
<p><b>Museum Sonobudoyo</b> adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta. Selainkeramik pada zaman Neolitik dan patung perunggu dari abad ke-8, museum ini juga menyimpan beberapa macam bentuk wayang kulit, berbagai senjata kuno (termasuk keris), dan topeng Jawa.</p>
<p>Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit. Museum Sonobudoyo Unit I terletak di Jl. Trikora No. 6 Yogyakarta, sedangkan Unit II terdapat di nDalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.</p>
<p>Museum yang terletak di bagian utara Alun-alon Lor dari kraton Yogyakarta itu pada malam hari juga menampilkan pertunjukkan wayang kulit dalam bentuk penampilan aslinya (dengan menggunakan bahasa Jawa diiringi dengan musik gamelan Jawa). Pertunjukan wayang kulit ini disajikan secara ringkas dari jam 8:00-10:00 malam pada hari kerja untuk para turis asing maupun turis domestik.</p>
<p><img class="aligncenter" style="-webkit-user-select: none;" alt="" src="http://museum-onlinedirectory.com/images/Sonobudoyo.jpg" /></p>
<p>Jumlah koleksi museum kurang lebih 43.000 dan setiap tahunnya selalu bertambah. Bertambahnya koleksi melalui hibah, proses ganti rugi, barang titipan, pesanan.</p>
<p><span style="line-height: 1.5em;">Koleksi Museum Sonobudoyo terbagi menjadi 10 jenis yaitu</span></p>
<p>1. <b>Koleksi Numismatik dan Heraldika</b> obyek penelitiannya adalah setiap mata uang / alat tukar yang sah, terdiri dari mata uang logam dan mata uang kertas. Heraldika adalah setiap tanda jasa, lambang dan pangkat resmi (termasuk cap /stempel).</p>
<p>2. <b>Koleksi Filologi</b> adalah benda koleksi yang menjadi objek penelitian filologi, misalnya riaskah kuno, tulisan tangan yang menguraikan sesuatu hal atau peristiwa.</p>
<p>3. <b>Koleksi Keramologika</b> adalah koleksi yang dibuat dari bahan tanah liat bakar (baked clay) berupa pecah belah, misalnya: Guci.</p>
<p>4. <b>Koleksi Seni rupa</b> kolaksi seni yang mengekspresikan pengalaman artistik melalui objek dua dimensi atau dimensi atau tiga</p>
<p>5. <b>Koleksi Teknologi</b> banda/kumpulan benda yang menggambarkan perkembangan teknologi yang menonjol berupa peralatan atau hasil produksi yang di buat secara massal oleh suatu industri/pabrik, contoh : Gramaphon.</p>
<p>6. <b>Koleksi Geologi</b> adalah benda yang menjadi obyek ilmu geologi, antara lain batuan, mineral, fosil dan benda-benda bentukan alam lainnya (permata, granit, andesit). Contoh : Batu Barit.</p>
<p>7. <b>Koleksi Biologi</b> adalah benda yang menjadi objek penelitian ilmu biologi, antara lain tengkorak atau rangka manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Misalnya burung (obset) / dikeringkan.</p>
<p>8. <b>Koleksi Arkeologi</b> adalah benda yang menjadi objek penelitian arkeologi. Benda tersebut merupakan hasil peninggalan manusia dari zaman prasejarah sampai dengan masuknya pengaruh kebudayaan barat misalnya : Cermin.</p>
<p>9. <b>Koleksi Etnografi</b> adalah benda yang menjadi objek peneiitian ilmu etnografi, benda-benda tersebut merupakan hasil budaya atau menggambarkan identitas suatu etnis misalnya Kacip.</p>
<p>10. <b>Koleksi Historika</b> adalah benda yang bernilai sejarah dan menjadi objek penelitian sejarah. Benda tersebut dari sejarah masuknya budaya barat sampai dengan sekarang, misalnya Senapan laras panjang, Meriam.</p>
<p>Koleksi tersebut di pamerkan di Museum Sonobudoyo unit I dan Museum Sonobudoyo II. Untuk Sonobudoyo unit I dipamerkan di sembilan ruang.</p>
<p><b>Ruang Pendopo dan Sekitarnya</b><br />
<b></b></p>
<p>Bangunan pendopo berbentuk limas dengan atap tumpang sari bertingkat dua. Fungsi pendopo dalam bangunan Jawa yaitu untuk menerima tamu.</p>
<p>Di sebelah selatan pendapa terdapat dua buah meriam masing-masing ditempatkan di samping timur dan barat.</p>
<p>a. <b>Meriam di sisi Timur</b> :</p>
<p>Di bagian pangkal terdapat tulisan huruf Jawa yang berbunyi &#8220;Yasa dalem meriyem ing Ngayogyakartahadiningrat ing tahun Alip, sinengkalan <b>Nrus guna Pandita Ratu</b>&#8221; (Nrus = 9; guna = 3, Pandita = 7, Ratu = 1) berarti 1739 Jawa atau tahun 1871 Masehi.</p>
<p>b. <b>Meriam di sisi Barat</b> :</p>
<p>Meriam yang berada di sisi barat ini juga hampir sama dengan koleksi meriam di sisi timur. Pada bagian pangkal terdapat tulisan huruf Jawa dan berbunyi &#8220;Yasa dalem meriyem ing Ngayogyakartahadmingrat ing tahun Junakir, sinengkalan <b>Naga mosik sabdaning Ratu</b>&#8221; (Naga = 8; mosik = 6; sabda = 7; Ratu = 1) yang berarti tahun 1768 Jawa atau tahun 1846 Masehi.</p>
<p>Kedua koleksi meriam tersebut di atas berasal dari masa Sri Sultan Hamengku Buwana III.</p>
<p>Selian meriam terdapat pula arca dan relief. Berikut beberapa koleksi yang berada di halaman pendapa : Arca Dewi Laksmi, arca Mahakala, dan Makara. Sedangkan di bagian dalam pendopo terdapat seperangkat gamelan.</p>
<p><img class="aligncenter" style="-webkit-user-select: none;" alt="" src="http://intisari-online.com//media/images/5608_merenda_sejarah_nusantara_di_museum_sonobudoyo.jpg" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum anda mengunjungi <b>Museum Sonobudoyo</b>, anda wajib membawa kamera ke tempat itu. Nah jika kamu masih belum mempunyai kamera atau kamera kamu ketinggal di rumah kamu bisa sewa kamera dan lensa di <a href="/">Titikfokus kamera</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/museum-sejarah-dan-kebudayaan-jawa/">museum sejarah dan kebudayaan Jawa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>/museum-sejarah-dan-kebudayaan-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>Hutan Lindung Wanagama</title>
		<link>/hutan-lindung-wanagama/</link>
				<comments>/hutan-lindung-wanagama/#respond</comments>
				<pubDate>Mon, 15 Dec 2014 02:59:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[titikfokus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[temat wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">/?p=1905</guid>
				<description><![CDATA[<p>Berkat akademisi dari Fakultas kehutanan Gadjah Mada dan dibantu oleh warga setempat sejak tahun 1964, hutan Wanagama yang dulunya merupakan lahan tandus, sampai akhirnya di reboisasi hingga seperti sekarang ini. Sekarang hasilnya sudah bisa terlihat, beragam tanaman tumbuh lebat, layaknya sebuah hutan dengan beragam kekayaan hayatinya. Gunung kidul yang terkenal gersang dan tandus, tidak terlihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/hutan-lindung-wanagama/">Hutan Lindung Wanagama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<p>Berkat akademisi dari Fakultas kehutanan Gadjah Mada dan dibantu oleh warga setempat sejak tahun 1964, hutan Wanagama yang dulunya merupakan lahan tandus, sampai akhirnya di reboisasi hingga seperti sekarang ini. Sekarang hasilnya sudah bisa terlihat, beragam tanaman tumbuh lebat, layaknya sebuah hutan dengan beragam kekayaan hayatinya. Gunung kidul yang terkenal gersang dan tandus, tidak terlihat disini.</p>
<p><img style="line-height: 1.5em; -webkit-user-select: none;" alt="" src="http://blog.goindonesia.com/wp-content/uploads/2014/03/wanagama-forest.jpg" /></p>
<p>Hutan Lindung wanagama berada di empat desa di Kecamatan Patuk dan Playen , Gunungkidul, Yogyakarta, berjarak 35 Km kearah selatan dari kota Yogyakarta, anda bisa menggunakan bis umum jurusan wonosari dari terminal giwangan untuk menuju ke lokasi hutan lindung wanagama. Hutan wanagama berdiri di atas tanah seluas 600 hektar yang akan menawarkan dan memanjakan dengan kesejukannya ditengah perbukitan gunungkidul yang berupa bukit kapur dan gersang. Nama hutan ini begitu mendunia, tak tanggung- tanggung Pangeran Charles, Pangeran Bernhard, dan sederetan pejabat penting tanah air datang kehutan ini. Pangeran Charles datang kehutan ini pada tahun 1989 dengan membawa satu pohon jati yang disebut sebagai jati londo oleh masyarakat, selain meninggalkan pohon jati londo, Pangeran Charles juga meninggalkan rute yang menjadi favorit pengunjung saat datang ke hutan wanagama ini, yaitu dari wisma cendana sampai ke bukit<span style="line-height: 1.5em;"> hell.</span><img style="line-height: 1.5em; -webkit-user-select: none;" alt="" src="http://indoturs.com/wp-content/uploads/2013/12/Wanagama-3.jpg" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengelola Hutan Wanagama menyediakan fasilitas pendukung bagi wisatawan yang berkunjung, diataranya terdapat camping ground, sarana out bond, trek hiking, wisma, aula, wc, dan lainnya. Seperti beberapa waktu lalu saya bersama rekan-rekan berkesempatan merasakan camping di hutan Wanagama. Dengan fasilitas yang ada sudah cukup memadai untuk melakukan kegiatan dengan peserta kisaran ratusan orang.</p>
<p><img style="-webkit-user-select: none;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-JChbMUcUQuw/TsZvWNJJsRI/AAAAAAAACbk/EIwWGMJ9FwU/s1600/hutan-wanagama.jpg" /></p>
<p>Untuk menikmati alam sekitar Hutan Wanagama, kita bisa melakukan hikking. Menyusuri jalan setapak di pinggiran sungai Oya. Ada tempat spesial bisa anda temukan dan sayang jika dilewatkan, yaitu grojogan Sendang Tahunan yang menawan. Grojogan atau air terjun sendang tahunan berasal dari aliran sungai kecil diatasnya, mengalir diantara tebing batu yang eksotik. Cocok sekali untuk berfoto ria, tetapi mesti hati-hati karena tempatnya cukup terjal.</p>
<p>Sebelum anda mengunjungi Hutan Wanagama, anda wajib membawa kamera ke tempat itu. Nah jika kamu masih belum mempunyai kamera atau kamera kamu ketinggal di rumah kamu bisa sewa kamera dan lensa di <a href="/">Titikfokus kamera</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/hutan-lindung-wanagama/">Hutan Lindung Wanagama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Titikfokus</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>/hutan-lindung-wanagama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
	</channel>
</rss>
